Category Archives: PRAGMATIK

PRAGMATIK DAN PENELITIAN PRAGMATIK

PRAGMATIK DAN PENELITIAN PRAGMATIK

Tujuh tahun lalu kami sempat diajar dengan baik oleh almarhum beliau, Bapak F.X. Nadar, pada kuliah pascasarjana Linguistik. Kesan pertama dan utama yang kami tangkap adalah beliau sangat pragmatis. Oya, istilah pragmatis yang kami pakai tidaklah sama dengan yang dipakai orang pada umumnya (yang biasanya cenderung dianggap negatif–semacam oportunis). Yang kami maksud pragmatis dalam konteks ini adalah sikap berbahasa yang

Read More

Mengenal Perbedaan Semantik dan Pragmatik

Kajian tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja dalam komunikasi manusia berupa bahasa telah mendapatkan perhatian dari para ilmuwan di masa lalu. Ilmu tentang hubungan antara penanda dan petanda itu disebut semiotika. Morris (1938) mengatakan bahwa dalam semiotika terdapat tiga bidang kajian, yakni sintaksis (syntax), semantik (semantics), dan pragmatik (pragmatics). Sintaksis adalah kajian tentang hubungan formal antartanda; semantik menganalisis hubungan

Read More

Prinsip Kesopanan (Politeness Principles)

Ada yang membutuhkan pencerahan tentang “Prinsip Kesopanan” (Politeness Principles)? Silakan membaca dan memahami tulisan ini. Selamat belajar. 🙂 PRINSIP KESANTUNAN/KESOPANAN Kesopansantunan pada umumnya berkaitan dengan hubungan antara dua partisipan yang dapat disebut sebagai ‘diri sendiri’ dan ‘orang lain’. Pandangan kesantunan dalam kajian pragmatik diuraikan oleh beberapa ahli. Diantaranya adalah Leech, Robin Lakoff, Bowl dan Levinson. Prinsip kesopanan memiliki beberapa maksim, yaitu maksim

Read More

Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principles)

Dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari manusia akan selalu bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam berinteraksi dengan orang lain, manusia menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Di dalam komunikasi yang wajar, masing-masing pihak yang terlibat, yaitu antara penutur dan mitra tutur akan selalu berusaha menyampaikan tuturannya secara efektif dan efisien. Hal ini senada dengan pendapat Wijana (1996:450) yang mengatakan bahwa seorang penutur

Read More