DESKRIPTIF VS. PRESKRIPTIF

Kenal Linguistik/ Agustus 23, 2017/ SELAYANG PANDANG, TATA BAHASA/ 0 comments

Dua sudut pandang yang saling berkebalikan dalam melihat bahasa adalah DESKRIPTIF dan PRESKRIPTIF. Kadang disebut juga dengan linguistik deskriptif dan linguistik preskriptif (cek video ini agar lebih paham).

Mungkin istilah yang paling sering didengar khalayak ramai adalah “deskriptif”–mirip dengan nama genre teks atau paragraf. Tapi sebenarnya yang sering kita lihat dan temui saat di bangku sekolah adalah sudut pandang preskriptif. Orang/pelakunya disebut dengan preskriptivis. Adapun pahamnya disebut preskriptvisme.

Tak hanya masyarakat umum, lulusan SMA/SMK berbondong-bondong masuk program studi Pendidikan Bahasa atau Sastra pada awalnya berpikir bahwa bahasa itu hanya perkara benar-salah, baku-tidak baku, baik-buruk, indah-jelek, atau bisa pula dalam-dangkal. Jadi, bahasa dianggap mudah dan berbahasa hanya perkara kebiasaan.

Tak salah memang. Sikap pandang ini berguna dalam pembelajaran bahasa, penyeragaman ragam bahasa, pemertahanan bahasa. Selanjutnya, keberhasilan preskriptivis suatu bahasa adalah keadaan saat bahasa tersebut dapat mencapai tingkatan estetika dan derajat yang setinggi-tingginya.

Namun, saat masuk kuliah, mahasiswa bahasa mulai diajarkan sudut pandang deskriptif. Malah sudut pandang inilah yang dianggap utama di bangku sarjana. Mengapa repot-repot berpikir deskriptif jika gunanya saja mahasiswa–dan masyarakat awam–tak tahu?

Sumber gambar: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/d9/8a/10/d98a108407232f2aa06e48628c2fbf47.jpg

Apa sebenarnya deskriptif? Gunanya apa? 

Deskriptif adalah cara memandang bahasa sebagaimana adanya bahasa itu digunakan. Bukan bahasa yang direkayasa atau direka-reka sebaik mungkin.

Kalau kuliah Anda tujuannya adalah untuk mengajar di bangku sekolah, berarti Anda cocok disebut preskriptivis sejati. Tapi, itu tidak berarti Anda bisa lepas sepenuhnya dari deskriptif.

Cara berpikir deskriptif amat berguna saat menghadapi permasalahan kebahasaan yang tidak ada aturan main resminya. Ambil contoh saja ada Adik kecil bertanya: “Bu Guru, dari tadi kita belajar macam-macam kebalikan. Tapi apa kebalikan kata ‘terbalik’, ya Bu?” :p

Atau kita ambil contoh lain, seorang mahasiswa bertanya: “Tadi Bapak bilang, tulisan ilmiah diusahakan harus menggunakan bahasa pengantar berupa bahasa Indonesia; kalau tidak ada dalam bahasa Indonesia, harus dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Tapi kok di Kata Pengantar skripsi sering ditulisi ‘Alhamdulillah’? Padanannya apa, ya?”

Pengalaman saya lebih konyol. Mahasiswa bimbingan ngeyel dengan mengatakan kata “masukkan” yang saya sarankan di atas kata “masukan” tulisannya itu tidak baku. Alasannya, di KBBI IV (yang paling mutakhir tahun itu) hanya ada kata masuk, pemasukan, masukan, tapi dia tidak menemukan kata masukkan. Setelah bolak-balik dicek pun tidak ada. “Jadi, penggunaan kata masukan dalam kalimat ‘Masukan bola ke dalam keranjang itu’ adalah betul, Pak!” Kira-kira begitulah bilangnya.

Sumber gambar: https://cdn.slidesharecdn.com/ss_thumbnails/6-morphologymorphemeallomorph-130409205017-phpapp02-thumbnail-4.jpg?cb=1365540659

Daripada pusing-pusing, saya minta dia menanyakan hal itu pada beberapa dosen baru yang masih punya semangat memberikan penjelasan pada mahasiswa ngeyelan ini.

Lalu, dia kembali lagi ke meja saya dengan muka lebih bingung lagi.

Mungkin dia terlalu meyakini bahwa yang ada di KBBI pasti benar dan yang tidak ada pasti salah.

Lalu, saya tanya, “Nilai matakuliah morfologi bahasa Indonesia yang saya ampu dulu kamu dapat nilai apa?”

“A, Pak,” jawabnya.

“Wah, kalau bisa, nilaimu itu saya cabut sekarang.”

“Lho, kenapa, Pak?”

“Lha nilaimu bagus, tapi kamu tidak tahu belajar morfologi itu gunanya buat apa. Buat apa kamu susah-susah belajar itu?”

Penulis: Icuk Prayogi

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*