DESKRIPTIVIS GAGAL, PRESKRIPTIVIS TAK LAKU

Kenal Linguistik/ September 4, 2017/ PENGAJARAN BAHASA, SELAYANG PANDANG/ 0 comments

Setelah beberapa kali pertemuan kuliah Bahasa Indonesia 1 pada jurusan Sastra Indonesia yang dosennya dianggap susah dipahami mahasiswa unyu-unyu karena baru lulus SMA di sebuah kampus, seorang mahasiswa menyeletuk, “Pak, kok kita nggak belajar bahasa Indonesia baku, ya?”

“Ooo… gampang itu. Kamu pergi ke Togamas atau S.A.B, beli EYD, KBBI, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Beres! Asalkan dibaca dan dipraktikkan juga sudah selesai perkara. Kuliah kita tidak tentang sesuatu yang sudah ada di buku seharga lima ribu!” Jawab ketus Sang Dosen yang memang terkenal galak. Kira-kira kejadian itu terjadi 16 tahun silam. Jadi, belum ada EBI dan KBBI Daring yang sekarang bisa diunduh gratis di Playstore!

Wajib!

Tiap pekan yang dibahas “hanya” perkara satu paragraf karangan .yang tiap seminggu sekali dikumpukan. Kalau hasil karangan kami dianggap jelek, beliau pasti ngomel-ngomel dengan sumpah serapahnya yang khas: grontol wutah! :p

Yang paling saya ingat adalah beliau selalu menekankan pada aspek (1) nalar, (2) kepaduan, dan (3) faktual. [icon name=”unlock” class=”” unprefixed_class=””]

Masalah nalar difokuskan pada kelogisan kalimat per kalimat. Kepaduan kohesif-koherensif (beliau jarang menggunakan istilah teknis/teoretis semacam ini) juga sangat diperhatikan. Oya, jangan harap tulisan yang berbusa-busa, mengguncangkan dunia, atau sok-sok-an melaknat KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) bakal dibaca. Yang ada, mah, dibuang di ruang kelas!

Maksud beliau, kita mesti menulis sesuatu yang kita alami/ketahui dengan pasti. Tulisan bertema semacam “perekonomian Indonesia meningkat” tentu tidak dianggap baik–sebab ini jurusan bahasa, yang input tentang perekonomian cuma dari koran, tidak dari pengamatan–jadi kita sebenarnya tidaklaah benar-benar tahu!

============================================================================

Beberapa tahun berselang, saya yang baru lulus matakuliah Penyuntingan, memberanikan diri melamar sebagai pemeriksa aksara. Tiap dapat naskah, selalu saja belajar hal baru.

Delapan bulan begitu terus, dan setiap mendapat uang lebih, saya belanjakan untuk membeli buku-buku terkait bahasa baku. Pada saat-saat itulah merasa sangat-sangat haus pengetahuan bahasa ini. Rasanya setiap hari ingin menyunting tulisan, deh.

Sepertinya kenal ….

Alhamdulillah pula, tawaran untuk menyunting tulisan ilmiah mulai berdatangan. Alias, beberapa kawan turut menyumbangkan skripsinya untuk dicorat-coret oleh saya. hehehe … seperti si Susan (Ria Enes) yang berambisi menjadi dokter karena ingin menyuntik pasien-pasiennya: njus … njus … njus!

Karena kecakapan yang dianggap lumayan dan mampu menjelaskan kepada teman-teman yang masih awam (padahal dulunya saya ini bego-nya ampunnnnn dah), saya diajak pula berembug tentang isi skripsi. Yang paling memusingkan kala itu adalah terpaksa ikut memikirkan penyebab dan faktor-faktor pembentuk slogan-slogan iklan rokok yang bentuknya sangat khas, misalnya Buktikan merahmuKomentar untuk para pembuat slogan itu adalah BRILIAN!

Kembali ke preskriptivis ….

Lima tahun lalu, setelah diterima jadi pengajar, saya sudah nggak menganut “aliran” ini lagi. Terbukti Kenal Linguistik membagi informasi-informasi linguistik di Twitter (yang sedang nge-tren saat itu) menggunakan bahasa Indonesia teknis ala kadarnya. Seringnya ditambahi interjeksi semacam “hehehe” atau emotikon-emotikon, biar terkesan santai. 😀

Namun, yang terjadi adalah sejak lima tahun lalu diminta mengampu matakuliah yang amat kental preskriptivisme, yakni Analisis Kesalahan Berbahasa, hingga saat ini.

*kapokmu kapan!* :p

Yang jelas, menjadi deskriptivis itu tidak berarti bakal meninggalkan hal-hal preskriptif. Dalam mengerjakan penelitian-penelitian deskriptif, misalnya, tentu tidak elok dan terkesan mekso bila kita tidak mengerjakan proposal/laporan penelitian itu dengan memperhatikan kaidah-kaidah baku. Menyampaikannya dalam forum resmi pun sedapat mungkin menghindari bentuk tak resmi.

Namun, yang harus disadari adalah menjadi preskriptivis itu perlu waktu bertahun-tahun, terutama untuk menimba pengetahuan yang datangnya per kasus, tidak bisa diajarkan serta merta di bangku kuliah semata.

Semakin tahu, semakin laku jasa kepreskriptifan kita. Ada profesi pengajar BIPA seperti Pak Totok Suhardijanto (Dosen UI), penyunting bahasa seperti Bu Sugihastuti, penerjemah jempolan macam Mas Prayudi Wijaya, ahli bahasa seperti Mas Ivan Lanin, bahkan leksikograf jika Anda menekuni kepreskriptifan ini dengan serius.

Adapun menjadi deskriptivis itu pun sebenarnya juga tidak mudah sebab perlu kemauan yang tak terbatas serta ketekunan belajar teori/konsep yang menggunakan bahasa teknis yang sangat-sangat spesifik, tapi nggak laku dijual kepada khalayak ramai. Apakah Anda seorang deskriptivis sejati? Bersiaplah untuk dianggap alien atau semacam Englishman in New York sebab tidak semua orang memahami apa yang Anda bahas. :p

Nah, kalau saya sih, jelas-jelas nggak jelas. Lha menjadi preskriptivis gagal sebab sering tercyduk melanggar konvensi, tapi dianggap deskriptivis juga kurang niat-ingsun baca buku. Alhasil, cuma bisa ngoceh saja di Kenal Linguistik. 😀

(IP)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*