Linguistik Antropologi bukan Antropologi Linguistik

Kenal Linguistik/ Agustus 13, 2017/ ETNOLINGUISTIK/ 0 comments

Banyaknya pembelajar linguistik yang keblasuk terlalu jauh ke pemahaman antropologi dalam kajian linguistik antropologi membuat saya tergerak untuk berbagi catatan singkat ini. Ingat, linguistik antropologi bukan antropologi linguistik. Bahasa tetap sebagai objek, namun dikaitkan dengan budaya penuturnya. Jangan sebaliknya! 😉
Selamat membaca!

————————————————————————————————

Linguistik antropologi dibedakan dengan antropologi linguistik. Perbedaan keduanya terletak pada fokus penelitian. Antropologi linguistik menekankan pada penelitian antropologi. Sedangkan linguistik antropologi menitik beratkan pada aspek bahasa (linguistik). Bahasa dalam linguistik antropologi merupakan sistem klasifikasi yang paling rumit dari sebuah kebudayaan. Duranti (1997:6) menyatakan bahwa linguistik antropologi terbentuk dari linguistik struktural, tetapi memiliki perspektif atau sudut pandang yang berbeda dalam objek yang dikaji, bahasa dan ketajaman sebuah objek. Linguistik antropologi menekankan pada linguistik sebagai pengungkap pola pikir masyarakat. Sementara Antropologi linguistik memandang bahasa sebagai satu set aplikasi kebudayaan. Bagi Antropologi linguistik, bahasa yang digunakan dalam masyarakat merupakan salah satu media untuk melakukan pendekatan antropologi. Seperti dikemukakan Duranti (1997:21):

Language as a set of cultural practice and the need to understand linguistic anthropology as fundamentally an interdisciplinary enterprise that draws from a variety of approaches within the humanities and the social science and yet presents itw own unique views of the nature of speaking and its role in the constitution of society and the interpretation of culture.

Linguistik antropologi berangkat dari teori relativitas bahasa yang dikemukakan oleh von Humboldt dan dilanjutkan oleh Sapir-Whorf, yang dikenal dengan hipotesis Sapir-Whorf:

Differences between languages are merely differences in modes of expressing a common range of experiences, rather than corresponding the differences in the experiences themselves. (Sampson, 1980:82)

Bahasa seseorang menentukan pandangan dunia melalui kategori gramatikal dan klasifikasi semantis yang ada dalam bahasa itu dan diwarisi bersama kebudayaannya. Hasil klasifikasi semantik itulah yang nantinya digunakan sebagai media tafsiran pemaknaan pengetahuan yang ada dalam suatu budaya. Singkat kata, menurut Sapir-Whorf, bahasa menentukan cara pandang terhadap dunia luar.

Dari uraian singkat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Linguistik Antropologi menganalisis bahasa dalam kaitannya dengan penuturnya, dalam hal ini dengan budaya penuturnya. Dapat dikatakan bahwa bahasa berkaitan dengan budaya penuturnya tetapi tidak dapat dikatakan bahwa masyarakat yang berbahasa sama selalu memiliki budaya yang sama, demikian pula sebaliknya. Hanya aspek-aspek tertentu dari bahasa yang berkaitan dengan budayanya. Aspek-aspek tersebut antara lain tatabahasa, leksikon, cara berbicara atau berkomunikasi, dan lainnya.

Contoh penelitian Linguistik Antropologi:

Judul: Konsep Tempat Tinggal dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia

Tujuan: Menganalisis leksikon tempat tinggal yang terdapat dalam kedua bahasa tersebut untuk mengetahui lebih lanjut cara pandang atau pola pikir penuturnya mengenai konsep tempat tinggal atau hunian.

Penulis: Ikmi Nur Oktavianti
*tulisan ini telah dipublikasikan di blog kami

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*