Mubazirnya Huruf “V” dalam Bahasa Indonesia

Kenal Linguistik/ Agustus 18, 2017/ SELAYANG PANDANG/ 0 comments

Tulisan umum dipakai manusia untuk merepresentasikan bahasa lisan. Kata orang, zaman sejarah baru dimulai kala suatu bangsa mengenal tulisan. Dengan tulisan, manusia bisa merekam apa yang terjadi di masa kini untuk kemudian dibaca di masa depan, entah itu dalam hitungan menit, jam, hari, maupun zaman. Adapun huruf merupakan representasi dari bunyi (fona/fonem). Ada 26 huruf dalam bahasa Indonesia: a, b, c, d, e, dst. Huruf-huruf itulah yang dikenali di seluruh dunia untuk diajarkan di bangku sekolah, dipakai di dunia bisnis, pemerintahan, atau apa pun itu.

Namun, sistem penulisan dengan dasar huruf Latin ini menyimpan beberapa kelemahan. Satu di antaranya ialah tidak mampu merepresentasikan seluruh bunyi yang diucapkan manusia, misalnya tidak dibedakannya bunyi e dalam bebekbekerja, dan beatau bunyi o dalam bobo dan nomor. Dalam bahasa Jawa, misalnya, ememang dibedakan antara e pepet dan e biasa dengan ditandai dengan semacam “cawang” di atasnya (Kompasiana tidak menyediakan font fonetis sehingga saya kesusahan untuk menuliskannya).

Kalau bunyi-bunyi vokal utama dispesifikkan lagi (3 e dan 2 o), maka jumlah huruf dalam bahasa Indonesia akan menjadi 30 dengan penulisan yang meminjam dari font fonetis. Jumlah yang tidak efektif. Tidak sesuai dengan prinsip efisiensi dalam bahasa. Adapun penuturlah yang menentukan bagaimana bunyi-bunyi itu bekerja, entah e diucapkan seperti dalam kata bekerja ala orang Jakarta atau bekerja ala Medan. Tak heran, kemudian ada perbedaan dalam logat berbahasa Indonesia berdasarkan pengaruh bahasa lokal.

Menurut saya, pengaruh ini tidak masalah toh bahasa-bahasa lokal-lah (terutama Indonesia Barat dan Tengah) yang memengaruhi, bukan dari bahasa asing. Namun, ada satu huruf yang sepertinya mubazir dalam bahasa Indonesia tulis, yakni huruf v.

Kenapa mubazir?

Huruf v ini tidak mempunyai perbedaan dengan f jika yang diucapkan adalah bahasa Indonesia. Sebagai informasi, huruf v yang benar dilafalkan sebagai “f ganda” dan huruf f dapat diartikan sebagai “v lemah”. Karena itulah, sebenarnya dalam bahasa kita ini tidak ada perbedaan antara dan v dalam vas maupun fasilitas (coba Anda ucapkan ya! hehehe). Berdasarkan bukti-bukti bahasa Melayu di masa lampau pun tidak ditemukan “f ganda” ini. Oleh karena itulah, dalam pembelajaran bahasa Inggris, orang Melayu kesulitan mengucapkan v dengan benar karena memang v-nya lemah. Semua kata yang mengandung huruf v adalah kata serapan dari bahasa asing, misalnya bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Dalam bahasa Jawa saja huruf v diubah menjadi w, misalnya siva (nama dewa) menjadi siwa. Tapi aneh ketika orang Barat secara seenaknya mengubah jawa menjadi javdalam tulisan-tulisan mereka. hehe

Karena itu, saya mengusulkan huruf v dalam bahasa Indonesia dihilangkan saja demi efektivitas dan efisiensi, terutama dalam semua kata serapan. Keuntungan lainnya, EYD maupun KBBI tidak perlu bersibuk-sibuk ria dipersoalkan kekonsistenannya dan masyarakat tidak perlu bingung bila melihat apakah yang benar tulisannya, misalnya kolektivitas atau kolektifitas. Toh kalaupun dilafalkan juga sama saja.

Salam hangat.

^____^

Penulis: Icuk Prayogi

*tulisan ini telah dipublikasikan di Kompasiana

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*