Peran Teta (Theta Theory)

Kenal Linguistik/ Agustus 13, 2017/ TATA BAHASA/ 0 comments

Terminologi peran teta ini awal mulanya berasal dari konsep mengenai “deep semantic case” yang dicetuskan oleh Fillmore (1968) dan diikuti Givon yang memperkenalkan terminologi peran semantis (semantic role). Selanjutnya, Jackendoff menggunakan terminologi relasi tematik (thematic relation) untuk merujuk pada peran semantis tersebut, yang kemudian direvisinya menjadi peran tematik (thematic role) atau disingkat peran teta (theta role) pada tahun 1990an. Meskipun demikian, kesemua istilah tersebut mengacu pada satu konsep yang sama, yakni aspek semantis. Adapun terminologi peran teta digunakan karena terminologi tersebut yang paling sering dijumpai dalam tulisan-tulisan linguistik mutakhir  (Saeed, 2005), khususnya oleh para linguis Amerika.

Menurut O’Grady, peran teta berkaitan dengan penentuan peran yang dimainkan oleh referen dari nomina atau frase nomina pada situasi yang dijelaskan oleh kalimat (1996:286). Penerima peran teta adalah nomina atau frase nomina. Hal ini didukung pula oleh Williams (1994:40). Williams menyatakan bahwa terdapat pendonor atau pemberi peran teta (yaitu Verba, Adjektiva, Preposisi) dan penerima peran teta  (Nomina). Antara pendonor peran teta dan penerima peran teta harus cocok (itulah sebabnya verba berargumen nomina dan preposisi mempunyai komplemen berupa nomina/unit lingual yang dinominakan).

Dalam kalimat aktif transitif (sebagai contoh paling sederhana), nomina (atau argumen) memperoleh peran teta dengan melihat relasinya dengan verba. Contohnya,

Mary kisses a teacher.

Verba kisses mengindikasikan adanya orang yang mencium dan orang yang diciumMary yang berposisi di preverbal noun memainkan perannya sebagai agen (orang yang mencium) dan a teacher yang berposisi post verbal nounmemainkan perannya sebagai penderita (orang yang dicium).

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa peran teta suatu nomina harus dikaitkan dengan keberadaannya dalam konstruksi. Jika hanya dilihat dari aspek morfologis, a teacher dalam contoh di atas akan selalu menjadi agen. Padahal jika dikembalikan pada keseluruhan konstruksi di atas, a teacher justru menjadi penderita (sehingga teacher pada kenyataannya belum tentu menjadi agen, bergantung pada konstruksinya). Oleh sebab itu, penentuan peran teta (peran semantis) tidak dapat mengandalkan sudut pandang morfologis.

Referensi:

Fillmore, Charles J. 1968. The Case for Case. Dalam E. Bach dan R. Harms (eds) Universals in Linguistic Theory, 1-88, New York: Holt, Rinehart & Winston

O’Grady, William, Michael Dobrovosky, dan Francis Katamba.  1996. Contemporary Linguistics: An Introduction. Harlow: Pearson Education Limited.

Saeed, John l. 2005. Semantics. Oxford: Blackwell.

Williams, Edwin. 1994. Thematic Structure in Syntax. Cambridge: MIT Press

Penulis: Ikmi Nur Oktavianti
*tulisan ini telah dipublikasikan di blog kami

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*