PRAGMATIK DAN PENELITIAN PRAGMATIK

Kenal Linguistik/ Agustus 19, 2017/ BELI BUKU, PRAGMATIK, REVIEW BUKU/ 0 comments

Tujuh tahun lalu kami sempat diajar dengan baik oleh almarhum beliau, Bapak F.X. Nadar, pada kuliah pascasarjana Linguistik. Kesan pertama dan utama yang kami tangkap adalah beliau sangat pragmatis.

Oya, istilah pragmatis yang kami pakai tidaklah sama dengan yang dipakai orang pada umumnya (yang biasanya cenderung dianggap negatif–semacam oportunis).

Yang kami maksud pragmatis dalam konteks ini adalah sikap berbahasa yang “menaklukkan” mitra wicara, seperti dalam falsafah Jawa: menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, dan seterusnya.

Pak Nadar (biasa kami menyebutnya begitu) ini pilihan kata, intonasi, volume, hingga gesturnya menjadikan siapa pun yang berbincang dengan beliau menjadi sungkan.

Contohnya, semakin keras volume kita, beliau akan semakin memelankan suaranya. Hingga kami sampai menanyakan “Apa, Pak?” hingga dua atau tiga kali untuk pernyataan yang sama.

Meskipun matakuliah yang diampunya kala itu bernama Bahasa Barat Modern, pragmatis kuat itu tetap dikenang para mahasiswanya hingga kini.

Dengan kata lain, sebagai sebuah pribadi, sepertinya Alm. Bapak Nadar telah mampu mengaplikasikan pragmatik Jawa secara utuh dalam kehidupan sehari-harinya.

Buku ini adalah karyanya yang mampu menjawab pertanyaan “apa itu pragmatik” dan “bagaimana cara meneliti pragmatik”. Sejak awal 2000-an, ilmu “permaksudan” ini cukup berkembang pesat, utamanya di kampus-kampus dengan basis linguis yang kuat.

B-bersama sosiolinguistik, banyak penelitian berupa skripsi, tesis, maupun disertasi yang berkutat pada bidang ini sampai sekarang. Ini karena penelitian pragmatik di Indonesia masih dapat diperhitungkan mengingat betapa bervariasinya penutur dan tuturan orang Indonesia, dengan tujuan pertuturan yang berupa-rupa pula.

Bagi praktisi komunikasi, pragmatik memberikan kejelasan secara ilmiah yang teruji untuk mengungkapkan “ada apa di balik tuturan”.

Bagi calon penerjemah, bahasa sepertinya merupakan “seni” bagaimana sebuah pesan disampaikan–jadi yang diterjemahkan dari BSu ke BSa adalah pesan, bukan bentuk bahasa.

Bisa jadi, pengungkapan pesan tidak dibangun dengan struktur yang eksplisit; namun, semuanya ditentukan ditentukan oleh konteks ekstralingual dan cara pragmatis sebuah bahasa mengungkapkan pesannya.

Oya, buku Alm. F.X. Nadar ini bisa didapatkan dengan harga Rp120.000 (belum ongkir) dengan mengubungi via Whatsapp 083840708500.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*